Guru SD Wajib Tahu Tentang Anak Disleksia

Ada tiga fokus utama dalam penelitian ini. Pertama, cara sekolah mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus, khususnya disleksia. Kedua, bagaimana guru menangani siswa tersebut. Ketiga, apa dampak dari upaya guru dalam membimbing anak disleksia. Penelitian ini penting dilakukan karena penanganan anak berkebutuhan khusus tidak bisa dilakukan secara parsial. Hal itu harus dilakukan mulai dari identifikasi awal, proses penanganan dan perlakuan terhadap siswa. Penelitian ini bersifat kualitatif, mengungkapkan secara rinci tentang model perlakuan SD INTIS dalam menangani siswa disleksia. Objek penelitian ini adalah peran guru dalam menangani siswa disleksia. Sedangkan subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, penanggung jawab inklusi, dan guru SD INTIS School Yogyakarta. Untuk menjawab permasalahan tersebut pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi difokuskan pada bimbingan guru dalam proses pembelajaran di kelas siswa disleksia. Wawancara difokuskan pada pengobatan dan pengembangan siswa disleksia. Dokumentasi difokuskan pada bukti yang mendukung siswa disleksia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ada lima tahapan SD INTIS School Yogyakarta dalam mengidentifikasi anak disleksia. Pertama, mengetahui kesulitan siswa dalam membaca. Kedua, mempelajari kesulitan belajar anak sebelum ujian. Ketiga, membantu mengidentifikasi ciri-ciri yang dihadapi guru setelah menjalani proses belajar mengajar di kelas; Keempat, mengadakan pertemuan untuk membahas keadaan siswa dengan kepala sekolah, penanggung jawab inklusi dan wali kelas sebelum penerimaan raport. Kelima, melakukan pemeriksaan ke psikolog (2) Ada tiga upaya guru dalam membimbing siswa disleksia, yaitu: memahami kondisi siswa, membangun kepercayaan diri siswa, dan terus-menerus berlatih membaca. Guru juga menggunakan metode ejaan dan metode bor yang mempengaruhi siswa. Selain itu, guru juga melakukan pendekatan secara personal kepada siswa disleksia sehingga mereka memiliki tempat untuk mengungkapkan segala kecemasannya. (3) dengan mengetahui kondisi siswa, guru mampu memberikan bimbingan dan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Meskipun belum menggunakan semua metode khusus, pendekatan dan metode guru memberikan pengaruh yang baik terhadap keterampilan literasi siswa disleksia. Para siswa sudah mulai lancar membaca, tulisan mereka sedikit rapi, dan kemampuan mereka meningkat dari waktu ke waktu. ( INDONESIA ) Penelitian ini membahas di SD INTIS School Yogyakarta yang memiliki perhatian khusus dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Ada tiga fokus utama dalam penelitian ini. Pertama adalah cara sekolah Mengidentifikasi anak berkebutuhan khsusus, terutama disleksia. Kedua, bagaimana cara guru memandu anak tersebut. Ketiga, apa dampak upaya guru dalam memandu anak disleksia. Penelitian ini penting karena penanganan anak berkebutuhan khusus tidak dapat dilakukan secara parsial. Harus dilakukan mulai dari awal berikutnya, proses untuk menangani anak dan pengobatan. Penelitian ini bersifat kualitatif, mengungkap secara rinci tentang model perlakuan SD INTIS dalam menangani anak berkebutuhan khusus disleksia. Objek penelitian ini adalah bagaimana peran guru dalam menangani disleksia anak. Subjeknya adalah kepala sekolah, penanggung jawab inklusi, dan guru SD INTIS School Yogyakarta. Untuk menjawab pertanyaan ini data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi pada bimbingan guru dalam proses belajar di kelas anak disleksia. Wawancara tentang pengobatan dan perkembangan terkait anak disleksia dan dokumentasi fokus pada bukti pendukung anak disleksia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ada lima tahapan SD INTIS School Yogyakarta dalam Identifikasi anak disleksia, yaitu, menemukan kesulitan belajar membaca pada anak. Kedua, pelajari kesulitan belajar anak sebelum dilakukan pemeriksaan . Ketiga, membantu penerimaan setelah mengetahui ciri-ciri yang ditemui guru di kelas, Keempat, mengadakan rapat untuk membicarakan keadaan anak bersama kepala sekolah, penanggung jawab inklusi dan guru kelas, sebelum rapor. Kelima, melakukan pemeriksaan dengan bantuan psikologi. (2) Upaya yang dilakukan guru untuk membimbing disleksia anak yaitu dengan memahami keadaan anak, membangun rasa percaya diri anak, dan dengan terus-menerus berlatih membaca. Guru juga menggunakan metode eja dan metode latihan yang juga berpengaruh bagi anak. Selain itu, guru juga melakukan pendekatan secara pribadi sehingga anak disleksia merasa punya tempat untuk menceritakan semua kegelisahannya. (3) Dengan memahami keadaan anak guru mampu memberikan bimbingan dan pendekatan sesuai kebu

0
130

Ada tiga fokus utama dalam penelitian ini. Pertama, cara sekolah mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus, khususnya disleksia. Kedua, bagaimana guru menangani siswa tersebut. Ketiga, apa dampak dari upaya guru dalam membimbing anak disleksia. Penelitian ini penting dilakukan karena penanganan anak berkebutuhan khusus tidak bisa dilakukan secara parsial. Hal itu harus dilakukan mulai dari identifikasi awal, proses penanganan dan perlakuan terhadap siswa. Penelitian ini bersifat kualitatif, mengungkapkan secara rinci tentang model perlakuan SD INTIS dalam menangani siswa disleksia. Objek penelitian ini adalah peran guru dalam menangani siswa disleksia. Sedangkan subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, penanggung jawab inklusi, dan guru SD INTIS School Yogyakarta. Untuk menjawab permasalahan tersebut pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi difokuskan pada bimbingan guru dalam proses pembelajaran di kelas siswa disleksia. Wawancara difokuskan pada pengobatan dan pengembangan siswa disleksia. Dokumentasi difokuskan pada bukti yang mendukung siswa disleksia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ada lima tahapan SD INTIS School Yogyakarta dalam mengidentifikasi anak disleksia. Pertama, mengetahui kesulitan siswa dalam membaca. Kedua, mempelajari kesulitan belajar anak sebelum ujian. Ketiga, membantu mengidentifikasi ciri-ciri yang dihadapi guru setelah menjalani proses belajar mengajar di kelas; Keempat, mengadakan pertemuan untuk membahas keadaan siswa dengan kepala sekolah, penanggung jawab inklusi dan wali kelas sebelum penerimaan raport. Kelima, melakukan pemeriksaan ke psikolog (2) Ada tiga upaya guru dalam membimbing siswa disleksia, yaitu: memahami kondisi siswa, membangun kepercayaan diri siswa, dan terus-menerus berlatih membaca. Guru juga menggunakan metode ejaan dan metode bor yang mempengaruhi siswa. Selain itu, guru juga melakukan pendekatan secara personal kepada siswa disleksia sehingga mereka memiliki tempat untuk mengungkapkan segala kecemasannya. (3) dengan mengetahui kondisi siswa, guru mampu memberikan bimbingan dan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Meskipun belum menggunakan semua metode khusus, pendekatan dan metode guru memberikan pengaruh yang baik terhadap keterampilan literasi siswa disleksia. Para siswa sudah mulai lancar membaca, tulisan mereka sedikit rapi, dan kemampuan mereka meningkat dari waktu ke waktu. ( INDONESIA ) Penelitian ini membahas di SD INTIS School Yogyakarta yang memiliki perhatian khusus dalam menangani anak berkebutuhan khusus. Ada tiga fokus utama dalam penelitian ini. Pertama adalah cara sekolah Mengidentifikasi anak berkebutuhan khsusus, terutama disleksia. Kedua, bagaimana cara guru memandu anak tersebut. Ketiga, apa dampak upaya guru dalam memandu anak disleksia. Penelitian ini penting karena penanganan anak berkebutuhan khusus tidak dapat dilakukan secara parsial. Harus dilakukan mulai dari awal berikutnya, proses untuk menangani anak dan pengobatan. Penelitian ini bersifat kualitatif, mengungkap secara rinci tentang model perlakuan SD INTIS dalam menangani anak berkebutuhan khusus disleksia. Objek penelitian ini adalah bagaimana peran guru dalam menangani disleksia anak. Subjeknya adalah kepala sekolah, penanggung jawab inklusi, dan guru SD INTIS School Yogyakarta. Untuk menjawab pertanyaan ini data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi pada bimbingan guru dalam proses belajar di kelas anak disleksia. Wawancara tentang pengobatan dan perkembangan terkait anak disleksia dan dokumentasi fokus pada bukti pendukung anak disleksia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ada lima tahapan SD INTIS School Yogyakarta dalam Identifikasi anak disleksia, yaitu, menemukan kesulitan belajar membaca pada anak. Kedua, pelajari kesulitan belajar anak sebelum dilakukan pemeriksaan . Ketiga, membantu penerimaan setelah mengetahui ciri-ciri yang ditemui guru di kelas, Keempat, mengadakan rapat untuk membicarakan keadaan anak bersama kepala sekolah, penanggung jawab inklusi dan guru kelas, sebelum rapor. Kelima, melakukan pemeriksaan dengan bantuan psikologi. (2) Upaya yang dilakukan guru untuk membimbing disleksia anak yaitu dengan memahami keadaan anak, membangun rasa percaya diri anak, dan dengan terus-menerus berlatih membaca. Guru juga menggunakan metode eja dan metode latihan yang juga berpengaruh bagi anak. Selain itu, guru juga melakukan pendekatan secara pribadi sehingga anak disleksia merasa punya tempat untuk menceritakan semua kegelisahannya. (3) Dengan memahami keadaan anak guru mampu memberikan bimbingan dan pendekatan sesuai kebu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini